Gelombang kemarahan publik mulai tak terbendung. Forum Gerakan Aliansi Kesehatan Gorontalo turun ke jalan, mengguncang dua institusi penting—Inspektorat dan Dinas Kesehatan Kota Gorontalo—dalam aksi yang bukan sekadar demonstrasi, tapi peringatan keras terhadap dugaan praktik mafia obat yang disebut-sebut telah lama bercokol di balik sistem pelayanan kesehatan.
Di bawah terik matahari, suara lantang Ketua Forum, Majid Mustaki, menjadi simbol keresahan masyarakat yang muak. Ia menuding adanya potensi “perlindungan sistemik” jika pengusutan tidak dilakukan secara transparan.
“Jangan sampai hukum hanya tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas,” serunya, disambut sorakan massa.
Tekanan itu memaksa Kepala Inspektorat turun langsung. Ia mengklaim tim khusus telah dibentuk. Namun, bagi sebagian publik, pernyataan itu terasa seperti kalimat yang terlalu sering didengar—janji tanpa kepastian hasil.
Sementara itu, sorotan beralih ke RSUD Aloe Saboe. Setelah didesak, Direktur RSAS akhirnya muncul. Pernyataannya justru memunculkan tanda tanya baru: tiga orang yang diduga terlibat hanya “dipindahkan” ke Dinas Kesehatan.
Langkah ini memicu spekulasi. Apakah ini bentuk penanganan serius—atau sekadar meredam gejolak sementara?
Di tengah ketidakpastian, satu hal menjadi jelas: kepercayaan publik sedang diuji. Dugaan mafia obat bukan sekadar isu administratif, tetapi menyangkut nyawa, keadilan, dan integritas sistem kesehatan.
Aksi ini mungkin baru permulaan. Jika tidak ada transparansi nyata, bukan tidak mungkin gelombang yang lebih besar akan datang—dan kali ini, tuntutannya bukan hanya klarifikasi, tapi pertanggungjawaban.


















