Example floating
Example floating
Example 728x250
GorontaloBeritaDaerahOpini

Refleksi Sweet Seventeen (17+) Keperawatan UNG Tercoreng Isu Oknum Dosen Persulit Mahasiswa

204
×

Refleksi Sweet Seventeen (17+) Keperawatan UNG Tercoreng Isu Oknum Dosen Persulit Mahasiswa

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Acara tahunan Refleksi Sweet Seventeen (17+). Gambar: Istimewa
Ilustrasi Acara tahunan Refleksi Sweet Seventeen (17+). Gambar: Istimewa
Example 468x60

GORONTALO — Acara tahunan Refleksi Sweet Seventeen (17+) dalam rangka memperingati 17 tahun berdirinya Program Studi Keperawatan Universitas Negeri Gorontalo (UNG) justru tercoreng oleh mencuatnya dugaan praktik oknum dosen yang disebut-sebut mempersulit proses akademik mahasiswa. Momentum yang seharusnya menjadi ruang perayaan, refleksi, dan penguatan mutu pendidikan ini kini berubah menjadi sorotan publik.

Agenda refleksi tersebut sejatinya diharapkan menjadi evaluasi terhadap perjalanan Prodi Keperawatan UNG serta wadah dialog bersama civitas akademika guna meningkatkan kualitas pendidikan. Namun laporan dari sejumlah mahasiswa mengungkapkan adanya dugaan praktik penyalahgunaan kewenangan oleh oknum di internal prodi yang berimplikasi langsung terhadap capaian akademik mahasiswa.

HUBUNGI 0823-8710-7828
Example 300x600
HUBUNGI 0823-8710-7828

Beberapa mahasiswa, yang enggan disebutkan identitasnya, menyampaikan bahwa praktik mempersulit mahasiswa telah berlangsung cukup lama dan menjadi semacam rahasia umum. Isu tersebut meliputi hambatan pada proses bimbingan, penilaian, hingga persyaratan administratif yang dibutuhkan mahasiswa untuk menyelesaikan studi.

“Kami sangat kecewa. Di satu sisi kami merayakan usia prodi yang seharusnya makin matang, tapi di sisi lain kami harus menghadapi oknum yang membuat proses belajar jadi sangat berat dan cenderung diperlambat,” ujar salah satu mahasiswa.

Dugaan pelanggaran yang beredar luas mencakup empat poin utama:

  1. Bimbingan Berlarut-larut.
    Oknum dosen diduga sengaja menunda jadwal bimbingan serta memberikan revisi berulang yang tidak substansial, sehingga memperpanjang proses penyelesaian skripsi atau tugas akhir.
  2. Penilaian Tidak Objektif.
    Terdapat dugaan pemberian nilai rendah tidak sesuai kinerja mahasiswa, termasuk memasukkan persoalan personal mahasiswa ke dalam penilaian akademik. Beberapa mahasiswa mengaku tidak diberi ruang klarifikasi bahkan setelah menyampaikan permintaan maaf.
  3. Hambatan Administratif.
    Oknum diduga menggunakan kewenangannya untuk menghambat administrasi yang menjadi syarat mahasiswa maju ke tahap berikutnya, seperti ujian, seminar, dan penyelesaian tugas akhir.
  4. Dugaan Pungutan pada Acara Ceremonial Dies Natalis.
    Sejumlah mahasiswa melaporkan adanya dugaan pungutan yang berkaitan dengan kegiatan ceremonial, meski belum ada klarifikasi resmi dari pihak prodi.

Isu ini diperkirakan akan menjadi topik pembahasan mendesak dalam forum refleksi tersebut. Mahasiswa dan alumni mendesak Fakultas Olahraga dan Kesehatan serta Rektorat UNG untuk bersikap tegas dan segera melakukan investigasi mendalam agar praktik serupa tidak terus terjadi dan menimbulkan preseden buruk bagi pendidikan tinggi.

“Perayaan ke-17 ini seharusnya menjadi titik balik untuk introspeksi besar-besaran. Kalau benar isu ini terjadi, maka mutu pendidikan dan integritas prodi sedang dipertaruhkan. Kami berharap pimpinan UNG tidak menutup mata dan segera membenahi,” ujar seorang perwakilan mahasiswa.

Selain mencoreng momentum refleksi, isu ini dianggap berpotensi merusak atmosfer akademik dan menciptakan ketidakadilan struktural bagi mahasiswa. Tindakan tegas dari pihak kampus dinilai penting untuk menjaga kepercayaan publik serta memastikan proses pendidikan berlangsung transparan dan akuntabel.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *