Example floating
Example floating
Example 728x250
Uncategorized

KITA SEMUA BURUH; BAHKAN SEJAK DALAM PIKIRAN.

25
×

KITA SEMUA BURUH; BAHKAN SEJAK DALAM PIKIRAN.

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

—Adnan R. Abas, Buruh Tambang yang sementara menempuh studi akhir di Akuntansi UNG.

Sejarah perjuangan buruh tidak pernah semata-mata berbicara tentang upah. Ia berbicara tentang hidup itu sendiri: tentang daya tahan, tentang umur panjang, tentang bagaimana manusia mempertahankan keberadaannya di tengah sistem yang terus menuntut lebih. Sebagaimana dibahas Yuval Noah Harari dalam Homo Deus, manusia modern hidup dalam perlombaan yang nyaris tanpa garis akhir—bekerja, berlari, bersaing, seolah keterlambatan adalah bentuk lain dari kematian.

HUBUNGI 0823-8710-7828
Example 300x600
HUBUNGI 0823-8710-7828

Kita melihatnya setiap hari: orang-orang bergegas keluar rumah menuju medan tempur masing-masing—kantor, tambang, pasar, ruang rapat, bahkan panggung politik. Semua bergerak dengan kecemasan yang sama: jangan sampai tertinggal. Setidaknya, mereka ingin membawa pulang satu jawaban sederhana—bahwa hari ini mereka masih bisa bertahan hidup.

Jika jujur, pola itu juga hidup dalam diri kita sendiri. Ada dorongan yang tak pernah benar-benar diam: harus produktif, harus bergerak, harus terus mengisi hari dengan sesuatu yang dianggap bernilai—membaca, menulis, bekerja, bahkan sekadar memastikan diri tetap relevan di hadapan orang lain.

Namun ketika kata “buruh” disebut, banyak orang segera membatasinya hanya pada mereka yang bekerja di bawah kapital: pekerja pabrik, karyawan, penambang, buruh harian. Begitulah definisi yang sering disodorkan oleh ruang-ruang akademik—lengkap dengan data, teori, dan referensi. Sayangnya, sering kali mereka lupa bahwa dirinya sendiri pun adalah pekerja: bekerja untuk pengakuan, untuk legitimasi, untuk dianggap layak, cerdas, dan tidak tertinggal zaman.

Di sinilah kritik kecil itu bermula: kita terlalu mudah mengidentifikasi buruh pada tubuh, tetapi lupa melihat perburuhan yang terjadi di dalam kepala.

Perbedaannya bukan pada kerja, melainkan pada nilai. Dalam kerangka ekonomi, nilai adalah sesuatu yang terlihat, dirasakan, dan dapat dipertukarkan melalui kesepakatan sosial. Sementara pikiran bekerja lebih sunyi. Ia adalah legitimasi tersembunyi. Nilainya baru tampak ketika hasilnya keluar: analisis, keputusan, strategi, kebijakan, tulisan, atau bahkan cara seseorang bertahan dari hidup yang nyaris runtuh.

Seorang lulusan Magister Ilmu Komunikasi yang bekerja di Kominfo Pemda, misalnya, dibayar bukan karena ototnya, melainkan karena pikirannya—karena kemampuannya menyusun pedoman, membaca persoalan publik, dan menawarkan arah kebijakan. Ia berpikir, lalu pikirannya diberi upah.

Pertanyaannya: bagaimana dengan pikiran yang bekerja untuk diri sendiri? Pikiran yang setiap hari berjuang agar seseorang tidak menyerah, tidak runtuh, tidak memilih gantungan di bilik kamar? Apakah kerja semacam itu juga layak diapresiasi?

Dari sinilah lahir kebiasaan yang hari ini kita kenal sebagai self reward. Orang-orang mencari cara untuk mengupahi dirinya sendiri. Sebab diri, pada akhirnya, adalah akumulasi dari pikiran-pikiran yang berhasil bertahan.

Bentuknya berbeda-beda. Ada yang merasa cukup dengan sebatang rokok, ada yang bahagia dengan kopi sederhana, ada yang memilih liburan, membeli sesuatu yang lama diinginkan, atau sekadar makan enak setelah hari-hari panjang yang melelahkan. Seorang perempuan yang burnout karena bekerja dan terus menahan dirinya agar tidak hancur, kadang hanya ingin diupahi dengan istirahat yang layak. Itu bukan kemewahan; itu ucapan terima kasih kepada diri sendiri karena masih bertahan.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa kita harus berhenti melawan ketidakadilan upah. Justru sebaliknya: lawanlah. Berkolektiflah. Sebab perjuangan bersama membuat hidup tidak hanya berhenti pada rokok gulung dan liburan di halaman rumah. Ada hak yang memang harus direbut, bukan dinegosiasikan dengan pasrah.

Tetapi ada satu hal yang juga perlu diingat: tidak semua peperangan harus dilakukan dengan cara menghancurkan diri sendiri. Sebab sering kali, sebelum sistem itu runtuh, manusianya lebih dulu tumbang.

Di luar sana, banyak orang telah kalah—kalah secara ekonomi, kalah secara sosial, bahkan kalah sejak dalam pikirannya sendiri. Namun mereka tetap hidup. Mereka berjalan, bernapas, dan memilih menjalani semuanya dengan tenang. Bukan karena mereka setuju pada ketidakadilan, tetapi karena mereka paham: tidak semua hal bisa dikendalikan dengan kemarahan.

Di titik itu, manusia mulai bertemu dengan meditasi—bukan sekadar diam, tetapi pemaknaan. Dalam 21 Lessons for the 21st Century, Harari menjelaskan bahwa makna sering kali lahir setelah peristiwa, bukan sebelumnya. Yang membuat manusia frustrasi bukan hanya penderitaan, tetapi tuntutan tanpa akhir di dalam kepala. Semua orang bisa menuntut, tetapi tidak semua orang mampu menerima.

Seseorang menginginkan mobil; setelah mobil itu didapat, ia menginginkan rumah. Setelah rumah, ia ingin kuasa. Setelah kuasa, ia ingin keabadian. Hasrat tidak pernah selesai. Dan pada puncaknya, manusia modern bahkan bermimpi tentang imortalitas—seolah kematian pun harus dikalahkan.

Barangkali, justru keterbatasanlah yang menyelamatkan kita. Upah yang kecil, jeda yang singkat, kebahagiaan yang sederhana—semuanya mengajarkan satu hal: kesabaran dan penerimaan.
Bukan berarti menyerah, melainkan tahu kapan harus berjuang dan kapan harus menjeda.

Mungkin itulah hubungan paling jujur antara buruh, pikiran, dan hidup: kita diminta tetap bertahan di tengah rezim yang tidak selalu memihak. “Sampai kapan?” Sampai periodenya selesai. Sebab tidak ada sistem yang abadi, sebagaimana tidak ada kegelisahan yang benar-benar menetap.

Karena itu, ke depan, pilihlah yang tidak menambah beban pikiran—termasuk dalam sistem sosial dan politik. Pilih yang visioner, yang solutif, yang memberi ruang bernapas; bukan yang terus menjadikan hidup sebagai hukuman.

Pada akhirnya, kita semua sadar: pikiran pun bekerja. Setelahnya lahirlah sistem. Dan hidup di tengah sistem yang buruk, ditambah kepala yang tak pernah tenang, adalah bentuk neraka yang paling dekat.

Karena itu, tolong—jangan dulu ambil tali.

Ambil jarak. Ambil napas. Ambil keberanian untuk keluar dari ruang yang membuatmu merasa mati perlahan.
Jika tempat itu tak lagi layak untuk hidup, pergilah. Jika sistem itu hanya membuatmu membusuk, lawanlah. Jika tidak bisa dihancurkan hari ini, setidaknya jangan biarkan ia menghancurkanmu lebih dulu.

Tetaplah hidup.

Karena kadang, bentuk paling radikal dari perlawanan adalah tetap bertahan.

Hidup.
Hidup.
Dan hidup.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *